20
Mar
09

The Transmission Mechanism of Monetary Policy

The Transmission Mechanism of Monetary Policy in Indonesia and the Objective of Monetary Policy

Krisis yang terjadi di tahun 1997 – 2000, mendorong pemerintah membuat perubahan terhadap kebijakan moneter yaitu dengan memberikan bank Indonesia kebijakan penuh dalam merumuskan dan menerapkan kebijakan – kebijakan. Pertama, sasaran bank sentral terpusat untuk menjaga stabilitas nilai mata uang dan inflasi. Kedua, bank sentral diberikan kebebasan dalam melaksanakan kebijakan moneternya, selama kebijakan yang dijalankan untuk menurunkan inflasi. Ketiga, keputusan terhadap kebijakan moneter berada ditangan Dewan Gubernur Bank Indonesia, dan tidak ada campur tangan pihak lain. Keempat, menjalankan suatu mekanisme yang jelas dan bersih untuk akuntabilitas dan transparansi atas kebijakan moneter yang di jalankannya. Perubahan terhadap kebijakan moneter ini diharapkan dapat mengatasi masalah inflasi yang sedang terjadi.

Macro Economic Environment and Policy Objectives

Lingkungan makro ekonomi dan perubahan – perubahan struktural akan mempengaruhi kebijakan moneter yang dijalankan. Sasaran hasil kebijakan moneter berkaitan erat dengan tingkat pengembangan keuangan, penyesuaian struktural dan pengaturan makroekonomi dimana kebijakan tersebut diterapkan. Krisis keuangan yang terjadi di Indonesia diawali ketika BI diputuskan untuk menerapkan suatu inflasi yang mengarah pada kebijakan moneter, pada pertengahan Juli 2005.

Awal dari krisis keuangan pada periode 1969 -1996, pada periode ini pertumbuhan ekonomi masih terjaga, yaitu sekitar 6% tiap tahun. Kecuali selama periode 1969 – 1978 dan 1989 – 1993 Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang besar 7 – 8% per tahun. Sektor pertumbuhan ekonomi yang utama pada saat itu adalah pertanian, pabrikasi dan pertambangan. Pertumbuhan ekonomi pada periode orde baru cukup stabil. Pemerintah orde baru merasa terikat dengan trilogi pembangunan, yaitu pertumbuhan, ekuitas, dan stabilitas. Pemerintah telah mencari cara untuk memperbaiki ekuitas dengan meningkatkan pertumbuhan. Selain itu, untuk mencapai pertumbuhan dan ekuitas pemerintah telah menempatkan suatu cara yang tepat untuk mengembangkan sumber daya manusia.

Inflasi yang cukup tinggi terjadi pada periode 1974 – 1978 sekitar 15%. Inflasi di Indonesia ditandai dengan tingginya harga bahan pangan, transportasi, dll. Di sisi eksternal, keseimbangan pembayaran terutama rekening koran, secara umum menunjukkan suatu defisit sekitar 2-3% dari GDP. Defisit terlihat dari hasil pajak impor yang tinggi tidak hanya bahan baku, tetapi juga pada mesin-mesin dan peralatan mekanis lain untuk produksi. Kurs yang relatif stabil karena sistem kurs mengambang yang diatur dengan cara tertentu. Sebelum periode krisis, devaluasi yang cukup besar terhadap mata uang Indonesia sebagai jawaban atas tekanan secara relatif penting di kurs. Devalusai terjadi selama 1978 – 1983 (38% kehilangan nilai), dan 1986. Di sisi fiskal, pemerintah menerapkan prinsip anggaran berimbang, untuk menerapkan prinsip ini harus selalu menyeimbangkan antara pendapatan pemerintah dan pengeluaran.

Periode krisis keuangan yang terjadi pada periode 1997 2000. Krisis keuangan dan ekonomi di Indonesia, yang dimulai pada pertengahan1997, menjadikan kondisi yang lebih parah dan sulit. Ekonomi menyusutkan sekitar 1368% selama 1998 dan tingkat inflasi tahunan mencapai 776% di tahun 1998. Hal ini juga terjadi di beberapa bank dan kegagalan bisnis secara besar-besaran dan suatu peningkatan yang sangat besar di dalam tingkat pengangguran.

Tingginya tingkat suku bunga dan depresiasi yang besar sangat mempengaruhi sektor perbankan dan sektor-sektor riil dengan kualitas aset yang kurang baik. Untuk mencegah ambruknya seluruh sistem perbankan, Bank Indonesia memperluas dukungan likuiditas kepada bank komersial. Sebagai hasilnya, uang palsu tumbuh sekitar 30% dari Desember 1997 hingga Maret 1998. Akhirnya Bank Indonesia memfokuskan tujuan utamanya untuk memulihkan keyakinan di dalam uang kartal nasional. Hiperinflasi harus dicegah dan inflasi dikurangi. Bank Indonesia percaya bahwa jika harga distabilkan, akan memperkuat nilai dari mata uang Indonesia terhadap uang kartal yang lain.

Inovasi lain di dalam tingkatkan operasi kebijakan moneter adalah “intervensi mata uang Indonesia”. Inovasi ini untuk mendukung pengekangan moneter dan labil suku bunga lembut di dalam pasar uang interbank. Secara seimbang, intervensi mata uang Indonesia tidak hanya bertindak sebagai suatu instrumen contractionary, tetapi juga sebagai expansionary. Usaha-usaha untuk mengendalikan perluasan moneter permulaan dukungan likuiditas dari pengeluaran pemerintah adalah juga didukung oleh sterilisasi di dalam pasar pertukaran valuta asing, yang secara bersamaan meningkatkan penawaran dari pertukaran valuta asing, dengan demikian membantu untuk menstabilkan uang kartal.

Periode menerapkan kerangka kebijakan moneter yang baru. Kerangka kebijakan moneter mempunyai tiga karakteristik yang utama, Pertama-tama, kebijakan moneter diarahkan untuk meraih satu target inflasi yang dengan tegas diumumkan kepada publik. Kedua, kebijakan moneter yang harus diterapkan di suatu dasar yang memandang ke depan, menanggapi pengembangan-pengembangan masa depan di dalam inflasi. Di tingkat operasional, Bank Indonesia ditempatkan pada kelas khusus tingkat kebijakan untuk bereaksi terhadap inflasi. Tingkat suku bunga BI diterapkan melalui operasi pasar terbuka untuk SBI-nya, sebagian besar karena mereka telah digunakan sebagai suatu acuan oleh pemain-pemain bank-bank dan pasar di Indonesia, mereka menguatkan pemberian isyarat tanggapan kebijakan moneter, dan mereka memainkan satu peran yang penting di dalam mekanisme transmisi yang moneter.

Di dalam merumuskan kebijakan moneter, aturan Taylor-type digunakan sebagai suatu acuan. Jadi, tingkat suku bunga merupakan instrumen-instrumen kebijakan moneter yang disesuaikan supaya bereaksi terhadap penyimpangan di dalam inflasi. Karakteristik dari ITF adalah karena kebijakan moneter diterapkan di suatu dasar yang transparan dengan akuntabilitas yang terukur. Inflasi yang mengarahkan lebih dari suatu kerangka untuk kebijakan moneter. Inflasi yang mengarahkan untuk penguasaan yang baik pada bank sentral. Komunikasi kepada publik dalam hal kebijakan moneter di masa depan adalah hal penting sehingga publik dapat mengantisipasi kebijakan moneter bank sentral dan untuk menghindari kejutan-kejutan bahwa bisa mencetuskan pasar dalam keadaan untung labil. Komunikasi-komunikasi kepada pemain-pemain pasar juga perlu, terutama ketika pasar keuangan sedang mengalami pergolakan. Di dalam pasar keuangan penuh dengan informasi tidak simetris, kekayaan informasi yang berpegang kepada bank sentral memiliki manfaat yang besar di dalam mengurangi isu. Mengenai ini, kredibilitas bank sentral itu adalah suatu hal yang penting.

Monetary Policy Transmission Mechanism

· General Framework of Transmission Channel

kebijakan moneter mempengaruhi ekonomi dan inflasi yang lebih luas, khususnya dikenal sebagai mekanisme transmisi kebijakan moneter. Dimana Kerangka umum dalam penyebaran kebijakan moneter secara berurut-urut terdiri dari kurs, harga aktiva, suku bunga, neraca, kredit, dan harapan(expectation).

summary-of-transmission-mechanism-of-monetary-policy

Pemerintah mengatur kebijakan moneter dengan menjadikan BI rate sebagai patokan dalam mengendalikan likuiditas di pasar uang. Dimana, jika SBI turun maka tingkat suku bunga mengalami penurunan yang berpengaruh terhadap kenaikan investasi pada pasar uang. Hal ini berkaitan erat dengan kerangka umum diatas, Dimana Mekanisme transmisi moneter melalui suku bunga mulai dari suatu perubahan suku bunga jangka pendek, yang akan disalurkan kepada semua tingkat bunga menengah dan jangka panjang melalui mekanisme keseimbangan dari permintaan dan penawaran di dalam pasar keuangan. Perubahan tingkat bunga nominal jangka pendek, yang disimpan bank sentral dapat mempengaruhi perubahan-perubahan di dalam tingkat bunga riil jangka pendek dan jangka panjang. Dimana suku bunga efektif jangka pendek yang lebih rendah akan menyebabkan suatu penurunan suku bunga efektif jangka panjang. Semua ini diharapkan dapat mempengaruhi variabel-variabel harga di dalam pasar keuangan, seperti variabel di sektor riil, dan inflasi.

Kredit merupakan faktor penting dalam pasar uang, dimana Sistem perbankan menciptakan uang (likuiditas) dengan mengeluarkan deposito-deposito dan investasi spekulatif tanpa peran di sisi aktiva. Tiga kondisi yang penting dalam kredit, adalah (1) jumlah uang beredar dalam kebijakan moneter dapat berpengaruh terhadap uang di sector riil.(2) tingkat bunga jangka pendek harus mempengaruhi tingkat bunga jangka panjang dan (3) tingkat bunga jangka panjang harus mempengaruhi pengeluaran investasi di sektor riil. Kurs merupakan hal penting dalam menjalankan kebijakan moneter, dimana perubahan kurs mempengaruhi penawaran dan harga dalam pasar uang. Harapan (expectation) dalam pasar uang merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap tinggi rendahnya tingkat investasi di pasar uang. Asset price merupakan nilai dari aktiva yang mempengaruhi tingkat bunga pada pasar uang, sedangkan Balance sheet adalah laporan yang terdiri dari asset, liabilities dan equity, dimana menunjukkan kondisi baik/buruknya posisi keuangan suatu perusahaan.

Penjelasan diatas akan mempengaruhi domestic demand dan domestic supply serta komponen lainnya yang saling berkaitan satu sama lain terhadap perekonomian di pasar uang. Jika kerangka umum tersebut tidak terkordinir dengan baik akan terjadi inflasi.

· Exchange Rate

Kurs merupakan hal penting dalam menjalankan kebijakan moneter, dimana perubahan kurs mempengaruhi penawaran dan harga dalam pasar uang. Suatu sistim kurs yang mengambang, sebagai contoh, kebijakan moneter akan jatuh, dimana harga uang kartal domestic juga akan menurun, dan meningkatkan harga dari barang impor, hal tersebut mengangkat harga domestik . Sementara itu, dalam beberapa Negara dengan suatu rezim yang diatur, dimana transmisi moneter yang dibanding oleh kurs lain akan memiliki suatu pengaruh secara relatif yang lebih besar dari harga di sector riil.

Berdasarkan analisa SVAR bahwa sebelum terjadi krisis, transmisi kebijakan moneter terhadap kurs sangat lemah. Dimana tindakan Moneter authoriy untuk memelihara keragaman kurs di dalam suatu kelompok tertentu telah menjaga kurs yang dapat diprediksi dan relatif stabil. Di bawah kondis seperti ini, suku bunga di instrumen SBI tidak mempunyai suatu dampak penting dalam kurs, dan kurs tersebut bukan satu faktor penentu yang penting dalam inflasi.

Jadi bank Indonesia sudah berkembang dan menerapkan satu sistim pemantauan dalam pertukaran valuta asing untuk melengkapi model makro pada kurs. Pertama, International Transaction Reporting System (LLD) dikembangkan dalam 2000 untuk memperbaiki pemahaman sifat dan besaran dari transaksi pertukaran valuta asing yang disertai bank-bank, lembaga keuangan bukan bank, perusahaan, dan individu. Ke dua, pemrosesan dalam analitis (OLAP) sistim dibuat dalam 2002 untuk memonitor transaksi pertukaran valuta asing sehari-hari di dalam pasar domestik. Sistem ini membantu Bank Indonesia untuk mengidentifikasi sumber dari fluktuasi kurs dan membatasi fluktuasi-fluktuasi di dalam kurs.

· Assets Price Chanel

Kondisi keuangan Negara dapat dilihat melalui asset price . asset price merupakan kekayaan yang akan dipakai oleh suatu Negara untuk menjalankan perekonomiannya. sebetulnya tidak ada hubungan antara asset price dengan ekonomi. tetapi menurut studi yang dilakukan oleh idris, assets price channel mempengaruhi kebijakan moneter melalui dampaknya di investasi.

Investasi terhubung dengan tingkat suku bunga yang dikeluarkan oleh BI dengan nama lain yaitu SBI. jika SBI di naikan maka masyarakat cenderung lebih memilih untuk menyimpan uangnya di bank, sehingga dari pihak bank juga sedikit untuk mengeluarkan dana unutk kredit kepada masyarakat. kenaikan SBI juga mempengaruhi tingkat keinginan seseorang untuk berinvestasi karena dengan SBI yang di naikkan maka akan membuat biaya investasi lebih besar. sebaliknya bila SBI di turunkan aktivitas di pasar modal akan bergairah kembali. tetapi perlu disadari juga setiap satu peningkatan investasi maka akan menimbulkan inflasi. tetapi sebagian orang lebih menahan kekayaannya pada saat kanaikan inflasi. Konsumsi juga memiliki nilai negative. konsumsi yang terlalu besar akan mengakibatkan peningkatan inflasi juga. konsumsi yang terlalu tinggi akan menyebabkan demand pull inflation. Survey menunjukan bahwa investasi yang banyak di pilih oleh masyarakat di atas 33% lebih memilih menempatkan dananya ke dalam deposito bank. kemudian tanah dan perumahan menjadi tempat ke dua dan tiga dalam pilihan investasi yang lebih di sukai masyarakat. sedangkan saham hanya 3%.

· Interest Rate Channel

Salah kebijakan moneter BI adalah interest rate yaitu kebijakan yang mengatur suku bunga untuk mempengaruhi jumlah uang beredar. Jika jumlah uang beredar berlebih maka pemerintah akan menaikan suku bunga agar masyarakat memilih untuk manabungkan uangnya dari pada membelanjakannya. Tetapi pemerintah juga harus berhati-hati agar pasar modal tidak terkena imbas karena dapat menyebabkan lambatnya pergerakan sector riil.

Pada masa pre krisis tingkat bunga kredit, deposito dan investasi riil sangat dipengaruhi oleh tarif antar bank. Pertumbuhan investasi dipegaruhi oleh pinjaman asing dan kredit investasi riil. pada masa ini semua masih berjalan dengan lancar dan dapat merespon kinerja bank sentral dengan baik.

Setelah krisis terjadi semua pasar menjadi tergangu baik pasar uang,modal,barang&jasa. Ketika SBI naik bank-bank umum akan mengurangi kucuran kredit mereka yang akan mengakibatkan investasi menurun jika invesatasi menurun maka GDP dan GNP akan rendah dan nilai eksport juga rendah jika nilai eksport lebih kecil dari pada import maka SDR kita akan kecil.

· Bank lending channel

Bank dan atau perantara keuangan mempunyai peranan yang penting didalam kebijakan moneter terkait dengan perekonomian suatu Negara. Ada satu pendapat bahwa bank merupakan lembaga penyalur kredit.

Tiga kondisi penting yang menentukan bank sebagai lembaga penyalur dana :

1. Harga mengikat sehingga kebijakan moneter mempengaruhi keseimbangan dipasar uang.

2. Tingkat bunga jangka pendek harus dapat mempengaruhi tingkat bunga jangka panjang.

3. Tingkat bunga jangka panjang harus dapat mempengaruhi investasi.

Dalam perbankan, Aktiva seperti juga kewajiban memainkan peranan yang penting (Bernanke dan Blinder (1988)). Dalam siklus moneter jika bank mengurangi cadangan minimum maka deposit (tabungan, deposito, dan giro) akan menurun yang menyebabkan penurunan pinjaman, sehingga akan mengurangi tingkat investasi. Sedangkan bagi Negara berkembang investasi merupakan sumber pemasukan external terbesar. Ketidakstabilan dalam dunia perbankan dapat mempengaruhi keadaan makroekonomi suatu Negara. Oleh sebab itu kondisi dibawah ini perlu diperhatikan :

1. Bank sentral harus mampu menyeimbangkan tingkat penawaran dari debitor.

2. Pinjaman bank dan sekuritas harus seimbang.

Pre – crisis period

Diawal masa krisis tingkat kredit bank tidak dipengaruhi oleh kebijakan moneter karena akses antara bank konvensional dan bank asing relative mudah. Akibatnya walaupun JUB menurun bank-bank masih bisa menyediakan pinjaman bagi para debitor.

Post – crisis period

Peminjaman bank komersial dipengaruhi oleh perilaku debitor selama dan setelah krisis. Melemahnya posisi neraca perusahaan dapat memperburuk posisi keuangan suatu perusahaan Karen bank tidak bersedia meminjamkan dananya. Karena liquiditas perusahaan dipertanyaankan.

Evidence from survey

Bagian ini menyajikan satu analisa berdasar pada suatu survei dari bank-bank dan perusahaan. Survei itu dirancang untuk menghasilkan jawaban atas beberapa pertanyaan-pertanyaan yang penting di perilaku dari bank-bank dan perusahaan sebagai akibatnya dari suatu krisis yang moneter. Dari survei perbankan, masalah pokok diuji adalah apakah bank-bank mengurangi penawaran pinjaman mereka setelah suatu krisis yang moneter, seperti yang diharapkan oleh peminjaman bank menggali hipotesis.

Lending behavior after a monetary shock

Survei membuktikan bahwa didalam kasus JUB yang menurun akan mengurangi kredit dari bank. sementara bank pertukaran valuta asing tidak akan mengurangi penawaran kredit mereka (borrowing). Sebagai pembanding, bank asing dan bank yang lebih besar serta bank pertukaran valuta asing tidak mempunyai akses untuk menyimpan dana. Lebih lanjut, saham bank tersebut memungkinkan untuk melindungi peminjaman sedikitnya untuk sementara waktu. Suatu hasil ditemukan dalam kasus SBI yaitu sekitar 72 % dari bank-bank mengurangi daftar biaya pinjaman (bunga) dan sekitar 20 % menaikkan penawaran pinjaman.

· Expectation Channel

Penyebab tarjadinya Krisis Kredit yang dikarenakan melemahnya neraca perusahaan di tengah – tengah rendahnya calon pembeli membuat bertambah buruknya posisi keuangan perusahaan. Dan oleh sebab itu mengurangi kesediaan bank untuk memberikan pinjaman. Untuk itu bank menjadi lebih selektif lagi untuk memberikan pinjaman kepada perusahaan. Karena bank tidak ingin mengambil resiko. Karena dalam kondisi seperti ini tidak menutup kemungkinan terjadinya kredit macet. Pinjaman bank adalah sumber utama dari dana luar.

Dari survei menunjukan dalam melakukan aktivitas bisnis, perusahaan menggunakan dana internal. Sementara , kredit bank masih merupakan sumber utama dari dana luar. Alasan utama perusahaan menggunakan dana internal karena mengacu pada masalah krisis kredit. Yaitu karena tingkat pinjaman relatif tinggi, prosedur untuk melakukan kredit juga sangat ketat dan karena adanya penjatahan kredit olehvbank.Biasanya perusahaan yang menggunakan pinjaman bank sebagai sumber utama untuk pembiayaan yaitu perusahaan manufaktur. Sementara itu sektor pertanian merupakan sektor yang paling sukar untuk memperoleh kredit dari Bank karena bisnis nya dinilai masih dalam skala kecil.

Keberadaan dari saluran pinjaman bank ditentukan oleh ada tidaknya kebijakan moneter yang mempengaruhi penawaran pinjaman. Sekitar 214% Bank- bank mengurangi penawaran pinjaman dan mayoritas bank ( 71%) menaikan tingkat pinjaman sebagai akibat dari uang ketat. Sementara itu, bank negara dan bank asing menaikkan suku bunga untuk mengurangi pinjaman- pinjaman.

Evidence from survey

Tingkat inflasi ditentukan oleh kurs dan suku bunga. Saat suku bunga ditingkatkan maka inflasi juga ikut meningkat. Dalam hal ini pasar tidak mempertimbangkan penyimpangan waktu dari kebijakan moneter. Untuk memproyeksikan inflasi masa depan, pasar menggunakan inflasi yg sebelumnya sebagai acuan.

· Conclusion

Setelah krisis, perekonomian sudah mengalami perubahan struktural. Suku bunga masih digunakan dalam pelaksanaan kebijakan moneter meskipun besarannya sudah dipengaruhi oleh kondisi-kondisi di dalam sistem perbankan dan menyeluruh faktor-faktor ketidakpastian dan risiko yang lebih tinggi. Serta mempengaruhi peminjaman bank untuk membatasi penurunan deposito-deposito dengan pembubaran, saham sekuritas mereka. Dan peminjamannya lebih sensitive terhadap perusahaan dengan modal rendah.


0 Responses to “The Transmission Mechanism of Monetary Policy”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: