21
Nov
08

SUPPLY & DEMAND (FILM)

Film

Suppply & Demand

Sekarang ini film sudah menjadi suatu kebutuhan bagi masyarakat karena dengan menonton film baik langsung di bioskop ataupun hanya dari DVD dapat menjadi hiburan bagi masyarakat. Sebagian masyarakat dikalangan menengah keatas rela mengeluarkan uangnya untuk menonton film dibioskop ataupun membeli DVD film yang ingin ditontonnya.

Bila kita melihat penghargaan-penghargaan Nasional dan Internasional, berbagai film dari berbagai genre berhasil memenangkan penghargaan. Penghargaan tersebut tak hanya berdasar angka penjualan tiket di bioskop, tetapi juga kualitas berbagai varian dalam film tersebut. Memang penghargaan  film di Indonesia juga telah mencoba memasuki suatu standar penilaian yang berkualitas. Tapi akhirnya tetap menjemukan karena film yang menang biasanya hanya yang begitu-begitu saja. Cinta. Remaja. Komedi. Horor.

Hal ini mempengaruhi perkembangan film khususnya di Indonesia menjadi semakin baik. Perkembangan film di Indonesia saat ini memang sudah pesat, namun seiiring dengan perkembangannya juga menimbulkan kendala-kendala yang dapat menghambatnya.

Pertama, mengenai tema atau ide cerita para penulis film. Sebagian besar film Indonesia bertema remaja/cinta dan horror. Sebenarnya dua tema ini tak bermasalah. Yang bermasalah ketika hampir semua film mengambil tema tersebut. Kesan yang muncul adalah insan film Indonesia tidak kreatif dan hanya mengejar pasar (karena kedua tema tersebut sedang tren). Hal ini menyebabkan minat/selera masyarakat terhadap film tersebut menurun, sehingga permintaan masyarakat terhadap film pun menurun dan omset/pendapatan industry perfilman ikut menurun karena tema yang monoton dan hanya itu-itu saja.

Pemecahan masalah ini menurut saya ada berbagai jalan diantaranya mengubah tema sedikit demi sedikit. Misalnya dalam sebuah film percintaan, diberikan sub tema. Misalnya masalah psikologis, action (meski ini kurang ideal menengok keterbatasan teknis), dan budaya. Tema seperti ini memang sudah mulai diangkat oleh beberapa film seperti Pesan dari Surga, Mengejar Mas-Mas dan Laskar Pelangi, namun pengolahannya belum maksimal. Dan lagi selama belum banyak produser film yang sadar, maka tema utama tak akan bergeser dan sub tema tetap akan jadi sub tema. Jadi harus ada komitmen dalam semua (atau setidaknya sebagian besar) produsen film untuk membuat film dengan tema (atau sub tema) yang lebih bervariasi dan berkualitas. Film dengan tema yang Edukatif, sehingga ada sesuatu yang bisa diambil. Tak usah tema yang terlalu berat memang, yang penting tetap ada sesuatu yang bisa dipelajari. Dalam hal ini, film (dalam konteks film bioskop) memang sudah mengalami peningkatan. Sementara sinetron masih terpuruk dalam rating dan tema film yang itu-itu saja, seperti cinta, komedi, dan remaja.

Selain dengan memperbaiki tema dan subtema sedikit demi sediki, para insan film Indonesia sebaiknya juga memberikan kesempatan pada generasi muda untuk menciptakan ide-ide baru yang lebih fresh. Dengan demikian film Indonesia dapat lebih variatif dan memberikan kesempatan pada generasi muda untuk belajar di bidang perfilman.

Kedua, Daya beli masyarakat terhadap CD/DVD semakin rendah, kemungkinan dikarenakan harga dari CD/DVD tersebut tinggi. Kesempatan ini ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bermoral untuk kepentingannya sendiri dengan membajak CD/DVD tersebut dan mengedarkannya di pasar seperti yang sedang marak saat ini. Dengan beredarnya CD/DVD bajakkan yang harganya lebih rendah dari harga aslinya membuat permintaan terhadap CD/DVD bajakan menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan CD/DVD asli, sehingga menyebabkan turunnya omset/pendapatan industri perfilman.

Pembajakan ini meresahkan para insan perfilman, karena pendapatan yang ia peroleh tidak sesuai dengan seharusnya. Untuk mengatasi masalah ini sebaiknya undang-undang yang melarang tentang pembajakan CD/DVD lebih diketatkan dan pemerintah harus bersikap lebih tegas terhadap orang-orang yang melakukan pembajakan tersebut.

Ketiga, Kurangnya modal dalam membuat film juga akan mempengaruhi hasilnya. Modal untuk membuat film merupakan suatu elemen penting, karena bila modal yang digunakan besar maka para insan perfilman dapat memanfaatkan modal tersebut dengan melakukan inovasi dengan meningkatkan teknologinya dan memperluas promosi filmnya. Sehingga film yang dibuatnya pun bisa lebih baik dan lebih menarik dari sebelumnya. Dan dapat menarik banyak konsumen untuk menonton film tersebut, sehingga meningkatkan pendapatannya. Sedangkan jika modalnya pas-pasan, maka hasilnya pun juga pas-pasan dan tidak berkualitas, sehingga kurang diminati oleh para penikmat film. Hal ini membuat harga jual terhadap film tersebut kecil dan omsetnya kecil pula.

Dalam hal ini, solusinya adalah insan perfilman Indonesia harus berani bereksperimen dan mau banyak belajar. Harus mengalami trial and error untuk mencapai suatu kualitas visual yang baik. Mungkin pada awalnya akan terlihat aneh dan bahkan mungkin jelek. Tetapi setelah tahap itu dilalui, kita bisa mencapai suatu kualitas yang baik. Selain itu banyak aspek visual yang bisa diolah dari berbagai contoh setting yang disebutkan di atas. Seperti keindahan bahari Indonesia (yang tak cuma diekspos di acara-acara dokumenter), pertandingan badminton yang seru (menggantikan adegan sepak bola dan basket yang sudah terlalu sering diekspos), atau mungkin adegan pelajaran tari Bali oleh seorang pemudi Bali. Sungguh banyak potensi visual yang sangat berjiwa Indonesia yang masih bisa diekspos. Tak menggunakan mereka sama halnya ketika kita berusaha memotong daging ayam kurus untuk memasak dengan tusuk gigi sementara kita sebenarnya punya seratus ayam gemuk dan gergaji mesin.

Dengan perbaikan di berbagai bidang tersebut, selain dapat meningkatkan penjualan dari film itu sendiri, juga akan menambah pendapatan Negara. Contohnya jika film-film Indonesia juga mengekspos tentang keindahan bahari, akan menarik minat wisatawan domestic ataupun mancanegara untuk berkunjung. Hal tersebut dapat meningkatkan devisa Negara.

Selain masalah-masalah yang di timbulkan seiring dengan perkembangan film Indonesia, juga ada keunggulannya. Akhir-akhir ini semakin banyak film Indonesia yang dterbitkan. Hal ini menandakan industry perfilman lebih aktif dan beberapa sudah berani bereksperimen untuk membuat tema-tema yang lebih variatif.

kurva supply dan demmand


0 Responses to “SUPPLY & DEMAND (FILM)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: